Percuma Jadi Istri Seksi
“Percuma gue jaga penampilan untuk tetap seksi dan menarik kalau nggak pernah disentuh suami,” itu obrolan saya dengan salah satu teman perempuan saya yang punya badan seksi. Dia perempuan rumahan, bukan seperti saya yang sering merasa nggak punya waktu untuk memanjakan diri untuk merawat penampilan untuk menyenangkan suami karena rasanya waktu habis di tempat kerja. Badannya memang aduhai *walah, saya perempuan bukan berarti saya nafsu sama dia loh hehehe* tapi memang badannya bak supermodel deh. Ramping, sintal, dadanya penuh, kakinya jenjang. Pokoknya cantik ala iklan deh !!!
*Walau sebenarnya cantik itu relatif kan !!!* — wink, wink …
Well, bukan itu masalahnya. Yang dia curhatkan ke saya adalah, walaupun dia sudah menjaga penampilan semenarik mungkin, akhir-akhir ini dia jarang disentuh sang suami. Dan itu bikin dia uring-uringan. Ya iyalah … saya bisa ngerti, hehehe …
Menurut saya, mungkin ada beberapa hal mengapa sang suami tidak mau menyentuhnya. Kelelahan. Kesibukan. Ngantuk. Ada hal lain yang dikerjakan. Sakit. Atau apapun lah alasannya. Kalau itu terjadi pada saya, saya akan berusaha mencari alasan yang masuk akal daripada terjebak dengan statement : suami saya sudah tidak menginginkan saya lagi.
“Kamu bisa tanyakan ke suami kamu, Non,” kata saya mencoba memberi solusi. Jawabannya “Sudah, katanya : capek.” Nah, benar kan saya bilang, hehehe … Lalu tambahnya, “Masak sudah tiga hari dia bilang capek. Dan selama tiga hari libur weekend panjang ini dia melulu tidur, masih juga capek. Apa aku ini kurang menarik lagi to, Mbak? Apa aku ini udah nggak seseksi dulu? Apa suamiku punya demenan lain?”
Wait, wait, wait … untuk perempuan dengan dua putra putri, badannya jauh lebih ramping dari saya yang belum pernah dihuni makhluk2 ajaib dalam rahim saya. Suami punya demenan, oowh come on … jangan punya pikiran yang meracuni diri sendiri.
Saya memang sering mendapat pertanyaan aneh-aneh dari sahabat-sahabat saya. Saya berusaha menjawab semampu saya. Seringnya tidak terjawab, hehehe … seperti pertanyaan ini. Lah, saya kan bukan istrinya. Jadi saya tidak tahu jawaban “capek” si suami itu artinya apa. Saya kan sudah kasih solusi yang saya bisa, yaitu komunikasi dengan sang suami. Hehehe. Entahlah.
Menurut saya siy, menjadi istri yang seksi tidak pernah menjadi percuma. Tampil cantik itu menyenangkan !!! Kalau saya jadi dia, kalau suami tidak menyentuh saya, dengan alasan capek, mungkin memang dia capek beneran. Kesibukannya mungkin butuh waktu lebih lama untuk mengembalikan energinya dengan tidur 3 hari *yea, jujur memang kayaknya sudah lebih dari cukup kaleee*. Kesempatan buat saya melakukan hal-hal yang bisa saya lakukan tanpa dia. ME TIME !!! Maen game, ke salon, refleksi kaki atau nyobain refleksi ikan *keknya lucu yak !!!* atau bikin kue yang bikin dia happy, mungkin setelah happy si dia bakalan memeluk dan menyentuh saya untuk ucapan terima kasih. Lalu berlanjut …
Yea.
Daripada membiarkan diri terjebak pikiran-pikiran yang tidak sehat, lebih baik melakukan hal-hal menyenangkan.
So, ada solusi untuk sahabat saya ???
Filed under ping ! | Comments (2)If U Want, Just Ask !
Ini berbeda dengan postingan sebelumnya, tentang jangan terlalu menuntut ketika pasanganmu sudah berusaha memberikan yang terbaik darinya.
Ladies, … saya ada cerita menarik dari pengalaman seorang teman. Sebut saja namanya, Sonny. Dia lelaki yang sering mengaku-ngaku ke saya kalau sudah menaklukan banyak wanita. Dia sering bercerita betapa hebatnya di ranjang. Tidak terlalu vulgar siy, tapi cukuplah membuat saya agak sedikit risi dengan kenarsisannya *coba baca buku -when silly met venus- deh disitu dibilang kadang narsis itu ganggu orang, menurut saya iya banget!!!*
Nah, suatu saat dia ikut membaca ketika saya bw (blogwalking ke blog teman). Sebuah blog yang menuangkan cerita gilanya, cukup erotis. Saya heran dengan reaksi dia ketika bertanya : Memangnya begitu ya ??? — dan itu diucapkan berulang-ulang. Saya sampai bingung maksudnya yang mana siy ?
Maksudnya adalah : Apakah perempuan biasa meminta ketika diranjang? Minta dipuaskan, maksudnya. Minta MO a.k.a multiple orgasm, maksudnya. Jawab saya : MENGAPA TIDAK ??? Lalu dia bertanya : Memangnya kamu juga minta pasangan kamu untuk dapat dulu sebelum lelakimu? Saya tidak mau mengumbar rahasia ranjang saya bersama pasangan. Tapi dalam hati saya spontan menjawab : YA, mengapa tidak ???
Menurut saya, hubungan seks pasangan suami istri adalah aktivitas yang sangat pribadi, menyenangkan, dan saling mengekplorasi. Jadi, apa salahnya meminta? Mungkin pasangan tidak selalu memenuhi, tapi setidaknya kita sudah memintanya. Mungkin selama ini pasangan tidak pernah memberi karena tidak tau apa yang kita, perempuannya, mau.
Katakan dengan lugas dan jelas. Kalau kata-kata tidak mampu menolong, gunakan panduan dengan meraih tangan pasangan dan arahkan ke tempat yang bisa membuat kita merasa enak. Bisikan kata-kata sayang ke telinga pasangan, katakan apa yang kita mau, biasanya ini cukup ampuh membuat pasangan melakukan apa yang kita inginkan. Seperti mantra sihir yang membuat dia tunduk atas keinginan yang kita bisikan.
Nah, kembali ke teman saya tadi, saya jadi heran, nah selama ini jangan2 dia hanya memuaskan diri sendiri sementara dia tak pernah tahu pasangannya terpuaskan atau tidak *ngekek segelak-gelaknya*
Ladies, berani mencoba? If you want it, just ask !!! Dan rasakan dahsyatnya kehangatan ranjang bersama si dia …

Dont Ask Too Much
Be careful with your wish :
hahahaha, makanya jangan suka nuntut lebih :
- gaji suami cukup untuk makan ikan sayur dan kerupuk, mintanya ayam goreng utuh plus buah anggur yang mahal
- mobil charade mungil suami mampu menaungi dari panas dan hujan saat bepergian, mintanya jaguar
- rumah mungil dengan taman kecil serta atap kokoh tanpa bocor, mintanya istana berkolam renang
- suami hangat dan penuh kasih sayang, pengen suami hot dan gairah berlebihan.
Bermimpi dalam hidup itu wajib baik, karena mimpi jugalah yang membuat kita mampu meraih hidup yang lebih baik *kata orang bijak*.
Syukuri apa yang kita punya. Tuhan kadang tidak memberi apa yang kita suka tetapi memberikan apa yang kita butuhkan.
Filed under ping ! | Comments (3)Cerita Mona
Siang ini saya bertemu dengan sahabat lama saya, sebut saja namanya Mawar Mona. Usia saya satu tahun lebih muda dari Mona. Dia belum berkeluarga.
Mona bertanya, “Apa enaknya siy menikah dengan seseorang. Mengabdikan diri, hati, dan bodi hanya pada SATU lelaki.”
Saya kenal betul karakter, sifat dan pola pikir Mona, karena bukan hanya satu dua tahun kami berteman. Tapi tetap saja saya sempat terhenyak beberapa detik dengan pertanyaan Mona itu. Saya mengerti, Mona bukannya menjalin hubungan dengan banyak pria dalam satu waktu yang sama. Mona juga bukan tipe perempuan yang bosan dengan satu lelaki lalu ganti yang lain dalam waktu yang relatif sebentar. Mona menjalin hubungan dengan seseorang bukan hanya karena kesenangan. Saya pernah tahu kisah Mona menjalin hubungan dengan seorang pria Italia selama 5 tahun tanpa selingkuh !!! Tapi entah kenapa lalu hubungan itu tak berlanjut.
“Bukannya aku takut pada komitmen, Ping. Tapi tidak ada yang menjamin kebahagian dalam hidup berumah tangga dengan seseorang. Kitanya setia, ternyata dia selingkuh. Belum lagi masalah ranjang.”
Memang, tidak ada yang menjamin kebahagiaan dalam hidup berumah tangga. In my words, hidup berumah tangga itu ada seninya. Memanage dua pribadi (plus plus — setelah lahir anak) menjadi satu keutuhan dengan nama : keluarga.
“Aku tidak pernah tidak serius menjalin hubungan dengan seseorang, Ping. Tapi aku percaya bahwa kebahagiaan itu memiliki tingkat kadaluarsa. Kamu ingat cerita hidupku dengan Mr. Italiano. My happy time hanya 5 tahun, setelah itu semuanya menjadi tidak sama lagi. Dia menjadi penuntut. Tergila-gila pada komitmen. Tidak, aku tidak bisa hidup dengan itu. Ya. Aku bahagia saat bersamanya. Tapi aku tidak bisa menjadi budak keinginan atas nama : komitmen”
Fyuff … no comment deh !!! I am speechless …
“Juga, perempuan kan tidak bisa memilih ukuran dan kepuasan yang ditawarkan pasangannya kalau belum menikah. In your case, apa kamu tahu berapa ukuran suamimu waktu pacaran dan seberapa hebat dia memuaskan kamu diranjang? Secara aku tahu kamu masih virgin sampai kamu menikah dengannya.”
Uhmm. Saya memang tidak mengiyakan ajakan menikah suami dengan melihat berapa ukuran miliknya dan dengan menguji seberapa hebat dia diranjang, walau pada kenyataannya *thanks God, ukuran dan kepuasan tiada meragukan, hehehe*
– Lalu saya jadi berpikir, pentingkah sebuah keluarga dibina hanya dengan ukuran SEKS ??? –
SEKS. Tentu PENTING dalam sebuah hubungan keluarga, tapi bukan satu-satunya. Bukankah ketika akhirnya menikah lalu mendapati ukuran milik pasangan kita tidak memuaskan, kita bisa mencari solusinya dengan datang ke klinik Mak Erot belajar teknik bercinta dan memuaskan pasangan walau dengan ukuran mini, misalnya …
Tapi, entahlah …
Teman, apakah ada yang bisa sharing dengan saya tentang hal ini ???
entah, kenapa saya ingin memasang gambar banana untuk posting ini … hihihihi …
Bukan Sekedar Kata “I Love You”
Ketika saya membaca buku When Silly met Venus milik duo bloggerwati kondang in, saya langsung tertohok, eww, apa ya istilahnya — ya ngerti lah maksud saya ketika kamu membaca buku dan ngerasa buku itu ‘gue banget’ – pada judul pertama : Perempuan itu Makhluk Verbal.
Iya banget !!!
Saya sering mengajukan pertanyaan nggak penting ke suami saya : “Yank, kamu sayang enggak siy?” Yang dijawab dengan malas-malasan “Ya sayang lah”. Kalimat berikutnya : “Nggak usah pakai ‘lah’ dong. Sayang ya sayang aja.” Lalu kalimat berbalasan yang sudah bisa ditebak dan mulai hapal sampai endingnya suami saya bilang : “Kenapa siy selalu tanya itu. Kamu tau kan aku sayang kamu. Mungkin nggak selalu bilang tapi kan aku selalu perhatian dan sayang kamu.”
Eww.
Perempuan butuh pengakuan. Kuping butuh mendengar. Dan harapan terhadap suami yang tak bosan-bosan bilang “Aku Sayang Kamu”. Hihihi … Tapi kalian perempuan, iya kan, ngaku aja !!! – Getok kepala saya kalau enggak — hehehe …
Saya juga merasa ada yang kurang kalau suami saya kirim sms tanpa bilang “I love you” di ending sms. Kalau saya balas sms dengan : Yank, ada yang kurang. Lalu dia tak membalas lagi, saya bakal uring-uringan dan buntut-buntutnya saya bilang : Kamu udah nggak sayang lagi sama aku ya.
Halah !!!
Dan setelah saya baca cerita pertama di buku WSMV tadi, saya kasih tunjuk ke suami bahwa saya bukan satu-satunya perempuan bawel dengan pertanyaan bodoh : Yank, kamu sayang ga sama aku.
Lalu apa kata suami saya?
“Bagus, jadi kamu pasti mengerti kalau aku nggak jawab bukan berarti aku nggak sayang, kan !!!”
Aaaarrrgh, … boys will be boys !!!
ini loh bukunya — mbak venus, mbak silly, kalau penjualan bukunya meledak, tentulah sumbang sih dari saya promosikan buku anda di sini — hehehehe !!!
Pernikahan Buaya
Hari ini, sahabatku yang mengaku dirinya buaya, yang menyatakan dengan bangganya betapa dirinya telah menaklukan banyak perempuan, hari ini, Jumat 4 Desember 2009 telah takluk pada seorang perempuan cantik yang katanya pencemburu, hihihi …
HAPPY WEDDING, my sob !!!
Welcome to the world …

Kriteria Pria Idaman
Ketika saya bertemu sahabat-sahabat lama, hampir semua dari mereka tidak menyangka bahwa akhirnya saya menikahi laki-laki yang sekarang menjadi suami saya.
Mengingat sepak terjang saya dengan banyak pria *confession*, mereka hampir dipastikan tidak bisa menemukan benang merah yang sama para lelaki yang menjalin hubungan dengan saya.
Memang, laki-laki saya aneh-aneh *peace ya para mantan !!!* secara profesi nggak ada yang sama, ada yang anak band, ada yang orang kantoran kinclong dengan jas dan sepatu gilapnya, ada yang anak kuliahan *berondong bow!!!*. Secara fisik pun gado-gado : ada yang bad boy banget lengkap dengan rambut gondrong dan tato, ada yang tinggi dan rambut klimis, ada yang ceking tapi addict sport, dan ada yang gemuk tapi lucu. Aneh ya.
Anehnya lagi, lelaki yang saya nikahi ini jauh dari laki-laki ajaib yang jadi pacar saya. Lelaki saya yang sekarang tinggal satu rumah satu ranjang dengan saya ini begitu BIASA. Tampan *thanks God. Bekerja mapan *walau tidak bergelimang harta*. Sayang dan Cinta sekali sama saya *walau jarang bilang i love you*. Duh, please deh Ping ! Nggak ngeluh kenapa siy.
Ouw, saya sangat bersyukur lelaki biasa ini mengajak saya menikah. Waktu mengajak menikahpun ya biasa-biasa saja. Tanpa berlutut dan bunga setundun. Dia hanya menyatakan dengan sangat sederhana. Dan saya mengiyakan begitu saja. Tanpa perlawanan. Saya mencintai dia. Dengan segala kebiasaannya.
Lalu, adakah kriteria pria idaman saya secara fisik? Penting kah itu? Bagi sebagian besar orang, mungkin penting. Termasuk saya. Karena saya tidak terlalu cantik, penampilan pria tampan tentu standar yang tak bisa dilewatkan, sekalipun bukan yang utama. Tapi ternyata, syarat gigi harus rata adalah syarat yang tidak bisa tidak. Bukannya saya bilang pria dengan gigi tak rata membuat saya ilfil *maaf* … Bagi saya, gigi adalah aset. Pria yang memiliki gigi rapi, putih bersih dan sehat pastilah pria yang mampu menjaga dirinya.
Apakah kamu punya kriteria pria idaman ???
Filed under ping ! | Comments (2)COCOK
Semalam ribut sama suami hanya karena mau nentuin mau nonton film apa : DRAMA KOMEDI (kesukaan saya) dan FUTURISTIK (kesukaan suami).
Buat saya, film futuristik itu tidak realistis. Khayal. Wagu. Malesi. Apalagi yang sudah berhubungan dengan alien-alien. Sungguh tidak masuk di nalar saya. Kecuali kalau seperti X-File masih bolehlah. Kecerdasan Agent Sculy dan ketampanan dan kemisteriusan Agent Murder menjadi tontonan tersendiri, hehehe.
Film District 9 yang akan kami tonton malam ini dari awal saja sudah membuat saya malas melanjutkan. Alien-alien yang hidup berdampingan bersama manusia. Khayal polll !!! Belum lagi bentuk alien yang mirip kecoak. Yaiiiksss !!!
Sementara, film Pain Labors yang mau saya tonton juga membuat suami ngomel2. “Nggak kalah khayal dari film Alien. Masak pake perut2an boss nya sampai nggak tau. Mending sekalian khayal total,” omel suamiku. Kami masih ribut menentukan film yang akan kami tonton bersama malam itu.
Ini bukan yang pertama. Aktivitas ribut sebelum menentukan apa yang saya mau atau yang suami mau memang sudah menjadi kebiasaan kami. Dari sisi selera, kami memang tidak cocok. Dia suka otomotif, saya suka bertaman. Dia suka film futuristik, saya suka film drama komedi. Dia suka gado2 dan kupat tahu, saya tidak suka makanan berkacang. Saya suka bakso, dia tidak terlalu suka. Saya suka singkong, dia suka keju, ooo … ooo *lagu Anak Singkong-nya Ari Wibowo, hehehe so jadul!!!*
Kami memang tidak cocok. Tapi ketidakcocokan itu tidak membuat kami terus bercerai. Masih banyak hal lain selain menomorsatukan kecocokan untuk menjalani kehidupan rumah tangga : CINTA, BERBAGI, SALING MENGISI.
Kembali ke masalah PERCERAIAN.
Apakah KETIDAKCOCOKAN menjadi alasan yang tepat untuk BERCERAI ???

