Cerita Mona

December 7th, 2009

Siang ini saya bertemu dengan sahabat lama saya, sebut saja namanya Mawar Mona. Usia saya satu tahun lebih muda dari Mona. Dia belum berkeluarga.

Mona bertanya, “Apa enaknya siy menikah dengan seseorang. Mengabdikan diri, hati, dan bodi hanya pada SATU lelaki.”

Saya kenal betul karakter, sifat dan pola pikir Mona, karena bukan hanya satu dua tahun kami berteman. Tapi tetap saja saya sempat terhenyak beberapa detik dengan pertanyaan Mona itu. Saya mengerti, Mona bukannya menjalin hubungan dengan banyak pria dalam satu waktu yang sama. Mona juga bukan tipe perempuan yang bosan dengan satu lelaki lalu ganti yang lain dalam waktu yang relatif sebentar. Mona menjalin hubungan dengan seseorang bukan hanya karena kesenangan.  Saya pernah tahu kisah Mona menjalin hubungan dengan seorang pria Italia selama 5 tahun tanpa selingkuh !!! Tapi entah kenapa lalu hubungan itu tak berlanjut.

“Bukannya aku takut pada komitmen, Ping. Tapi tidak ada yang menjamin kebahagian dalam hidup berumah tangga dengan seseorang. Kitanya setia, ternyata dia selingkuh. Belum lagi masalah ranjang.”

Memang, tidak ada yang menjamin kebahagiaan dalam hidup berumah tangga. In my words, hidup berumah tangga itu ada seninya. Memanage dua pribadi (plus plus — setelah lahir anak) menjadi satu keutuhan dengan nama : keluarga.

“Aku tidak pernah tidak serius menjalin hubungan dengan seseorang, Ping. Tapi aku percaya bahwa kebahagiaan itu memiliki tingkat kadaluarsa. Kamu ingat cerita hidupku dengan Mr. Italiano. My happy time hanya 5 tahun, setelah itu semuanya menjadi tidak sama lagi. Dia menjadi penuntut. Tergila-gila pada komitmen. Tidak, aku tidak bisa hidup dengan itu. Ya. Aku bahagia saat bersamanya. Tapi aku tidak bisa menjadi budak keinginan atas nama : komitmen”

Fyuff … no comment deh !!! I am speechless …

“Juga, perempuan kan tidak bisa memilih ukuran dan kepuasan yang ditawarkan pasangannya kalau belum menikah. In your case, apa kamu tahu berapa ukuran suamimu waktu pacaran dan seberapa hebat dia memuaskan kamu diranjang? Secara aku tahu kamu masih virgin sampai kamu menikah dengannya.”

Uhmm. Saya memang tidak mengiyakan ajakan menikah suami dengan melihat berapa ukuran miliknya dan dengan menguji seberapa hebat dia diranjang, walau pada kenyataannya *thanks God, ukuran dan kepuasan tiada meragukan, hehehe*

– Lalu saya jadi berpikir, pentingkah sebuah keluarga dibina hanya dengan ukuran SEKS ??? –

SEKS. Tentu PENTING dalam sebuah hubungan keluarga, tapi bukan satu-satunya. Bukankah ketika akhirnya menikah lalu mendapati ukuran milik pasangan kita tidak memuaskan, kita bisa mencari solusinya dengan datang ke klinik Mak Erot belajar teknik bercinta dan memuaskan pasangan walau dengan ukuran mini, misalnya …

Tapi, entahlah …

Teman, apakah ada yang bisa sharing dengan saya tentang hal ini ???

banana1 entah, kenapa saya ingin memasang gambar banana untuk posting ini … hihihihi …