Long Distance Relationship
Adik saya, sejak pacaran selama 5 tahun sebelum kemudian menikahi perempuan yang sekarang jadi istrinya ini, menjalani LDR a.k.a Long Distance Relationship alias “Hubungan Jarak Jauh”. Bahkan hari pertama setelah hari pernikahan mereka, sang istri harus langsung kembali bekerja meninggalkan adik saya seorang diri merana dalam sepi *lebbay*
Bagi sebagian orang, kebanyakan mungkin di jaman sekarang, karena suatu hal ‘terpaksa’ menjalani LDR ini. Biasanya, karena pekerjaan. Adik saya, saya, dan banyak teman di kantor saya juga harus memilih jalan terbaik sementara ini untuk kehidupan rumah tangganya. Pertimbangan finansial yang sayang bila dilepas sehingga kehilangan kemapanan yang sudah terbiasa dinikmati ^;^
Bagi saya dan adik saya, belum menjadi masalah besar karena kami belum memiliki momongan. Belajar dari banyak sahabat dan rekan kerja saya yang harus berjauhan dengan suami, atau bahkan ada yang anak-anak tinggal dengan suami sedangkan dia yang harus tinggal beda kota.
MENYIKSA, memang. Hidup jauh dari orang-orang yang kita kasihi.
Hal-hal yang tidak mengenakan menjalani LDR :
- KANGEN. Pastinya.
- Ketika ada masalah, baik internal (cemburu, beda pendapat, kesalahpahaman) maupun eksternal (mertua, ribut sama ipar, masalah kerjaan, dll) butuh waktu, energi, dan seringnya biaya untuk menyelesaikan satu masalah saja. Coba bayangkan kalau dalam seminggu masalah muncul beruntun *sigh*
- Biaya hidup membengkak. Istilah orang tua adalah : Memiliki dapur dua — dulu waktu saya dalam kebimbangan untuk menerima atau menolak promosi kepindahan saya ke luar kota, saya belum mengerti istilah ini. Tapi benar juga, biaya makan 2x, biaya listrik 2x, biaya hidup 2x. Karena kebutuhan yang bisa kita share berdua jadi dibayarkan sendiri-sendiri.
- ANAK. Memang siy banyak juga yang menjalani LDR tapi anak tetap aja banyak. Hehehe. Kalau menghitung probabilitas, misalnya ketika saatnya bisa berkumpul tapi si istri sedang ‘palang merah’ kan harus menunda minggu depannya. Belum lagi kalau jatuh tanggal merahnya pas hari Sabtu, bisa 2 minggu mundurnya hehehe …
- …. Hayooo, ada lagi yang bisa menambahkan??? Curlong alias curhat colongan atau Curpri alias curhat pribadi diperbolehkan disini !!!
Tapi bagi saya yang sudah menjalani LDR ini selama 3tahun, ada hal-hal positif loh yang saya rasakan :
- Saya memiliki banyak quality “ME TIME” – kebanyakan keluhan sahabat saya yang sudah menikah adalah sedikitnya “Me Time” yang dimiliki. Shopping, ke salon, hang out dengan besties-nya, kebutuhan ‘nikmat hedon’ sebagai wanita yang kadang sulit dimengerti pria.
- Saya jadi jarang marahan dengan suami. Kalau ada masalah, atau sesuatu yang bikin kesal, rasanya sayang kalau waktu untuk bertemu yang hanya seminggu sekali hanya untuk marah2an dan ngambek2an. Lebih enak buat sayang-sayangan toh … enak toh mantep toh … hehehe
- …. ???
Uhm, apalagi ya ??? Memang siy kalau dihitung emang banyak nggak enaknya. Tapi untuk satu dan alasan bagi mereka yang masih belum bisa lepas dari kondisi ini, mencari sisi positif selalu bisa membuat kita bertahan di kondisi yang tidak mengenakkan, kan ^;^ *cari pembenaran hehehe*
Ada yang bisa menambahkan ???
Filed under ping ! |
Leave a Reply
