Kriteria Pria Idaman
Ketika saya bertemu sahabat-sahabat lama, hampir semua dari mereka tidak menyangka bahwa akhirnya saya menikahi laki-laki yang sekarang menjadi suami saya.
Mengingat sepak terjang saya dengan banyak pria *confession*, mereka hampir dipastikan tidak bisa menemukan benang merah yang sama para lelaki yang menjalin hubungan dengan saya.
Memang, laki-laki saya aneh-aneh *peace ya para mantan !!!* secara profesi nggak ada yang sama, ada yang anak band, ada yang orang kantoran kinclong dengan jas dan sepatu gilapnya, ada yang anak kuliahan *berondong bow!!!*. Secara fisik pun gado-gado : ada yang bad boy banget lengkap dengan rambut gondrong dan tato, ada yang tinggi dan rambut klimis, ada yang ceking tapi addict sport, dan ada yang gemuk tapi lucu. Aneh ya.
Anehnya lagi, lelaki yang saya nikahi ini jauh dari laki-laki ajaib yang jadi pacar saya. Lelaki saya yang sekarang tinggal satu rumah satu ranjang dengan saya ini begitu BIASA. Tampan *thanks God. Bekerja mapan *walau tidak bergelimang harta*. Sayang dan Cinta sekali sama saya *walau jarang bilang i love you*. Duh, please deh Ping ! Nggak ngeluh kenapa siy.
Ouw, saya sangat bersyukur lelaki biasa ini mengajak saya menikah. Waktu mengajak menikahpun ya biasa-biasa saja. Tanpa berlutut dan bunga setundun. Dia hanya menyatakan dengan sangat sederhana. Dan saya mengiyakan begitu saja. Tanpa perlawanan. Saya mencintai dia. Dengan segala kebiasaannya.
Lalu, adakah kriteria pria idaman saya secara fisik? Penting kah itu? Bagi sebagian besar orang, mungkin penting. Termasuk saya. Karena saya tidak terlalu cantik, penampilan pria tampan tentu standar yang tak bisa dilewatkan, sekalipun bukan yang utama. Tapi ternyata, syarat gigi harus rata adalah syarat yang tidak bisa tidak. Bukannya saya bilang pria dengan gigi tak rata membuat saya ilfil *maaf* … Bagi saya, gigi adalah aset. Pria yang memiliki gigi rapi, putih bersih dan sehat pastilah pria yang mampu menjaga dirinya.
Apakah kamu punya kriteria pria idaman ???
Filed under ping ! | Comments (2)COCOK
Semalam ribut sama suami hanya karena mau nentuin mau nonton film apa : DRAMA KOMEDI (kesukaan saya) dan FUTURISTIK (kesukaan suami).
Buat saya, film futuristik itu tidak realistis. Khayal. Wagu. Malesi. Apalagi yang sudah berhubungan dengan alien-alien. Sungguh tidak masuk di nalar saya. Kecuali kalau seperti X-File masih bolehlah. Kecerdasan Agent Sculy dan ketampanan dan kemisteriusan Agent Murder menjadi tontonan tersendiri, hehehe.
Film District 9 yang akan kami tonton malam ini dari awal saja sudah membuat saya malas melanjutkan. Alien-alien yang hidup berdampingan bersama manusia. Khayal polll !!! Belum lagi bentuk alien yang mirip kecoak. Yaiiiksss !!!
Sementara, film Pain Labors yang mau saya tonton juga membuat suami ngomel2. “Nggak kalah khayal dari film Alien. Masak pake perut2an boss nya sampai nggak tau. Mending sekalian khayal total,” omel suamiku. Kami masih ribut menentukan film yang akan kami tonton bersama malam itu.
Ini bukan yang pertama. Aktivitas ribut sebelum menentukan apa yang saya mau atau yang suami mau memang sudah menjadi kebiasaan kami. Dari sisi selera, kami memang tidak cocok. Dia suka otomotif, saya suka bertaman. Dia suka film futuristik, saya suka film drama komedi. Dia suka gado2 dan kupat tahu, saya tidak suka makanan berkacang. Saya suka bakso, dia tidak terlalu suka. Saya suka singkong, dia suka keju, ooo … ooo *lagu Anak Singkong-nya Ari Wibowo, hehehe so jadul!!!*
Kami memang tidak cocok. Tapi ketidakcocokan itu tidak membuat kami terus bercerai. Masih banyak hal lain selain menomorsatukan kecocokan untuk menjalani kehidupan rumah tangga : CINTA, BERBAGI, SALING MENGISI.
Kembali ke masalah PERCERAIAN.
Apakah KETIDAKCOCOKAN menjadi alasan yang tepat untuk BERCERAI ???
Teman jadi Lawan
Kemarin saya bertemu seorang sahabat masa kecil saya. Semasa SMP, dia adalah tempat sampah curhat saya karena cowok gebetan saya sekelas dengannya. Dan saya adalah penyimpan rahasia ketika dia pacaran dengan guru kami (loh kok aku cerita disini ya, hehehe)
Dia menikah dua tahun sebelum saya menikah. Anaknya satu, sudah lima tahun, laki-laki. Beberapa kali saya berpapasan tapi tak sempat cerita-cerita. Hanya melihat dan say “hi” saja.
Terakhir saya mendengar kabar mereka bercerai pertengahan tahun ini, setelah setahun sebelumnya pisah rumah. Hak asuh ada pada dia tapi karena alasan ekonomi, selama ini anaknya ikut suaminya yang pengusaha kaya.
Ketika bertemu siang itu, kami peluk-pelukan, kangen-kangenan. Saya tidak menyinggung sama sekali tentang kehidupan perpisahannya. Dia menanyakan keluarga saya. Saya menanyakan karier dia. Hehehe. Nggak nyambung ya. Saya hanya menjaga kata saja jangan sampai mengungkit hal yang mungkin tidak ingin dibahasnya.
Tetapi ternyata dia yang lebih dulu membuka percakapan tentang perpisahannya itu, katanya : “Hayoo, kamu punya teman jomblo nggak buat jadi jagoku. Tapi yang mau sama janda ya,” candanya. Saya mesam mesem aja. Kok jadi saya yang nggak enak ya. Hehehe.
Konsep PERCERAIAN, buat saya masih sulit diterima. Apalagi dalam pernikahan yang saya yakini menganut monogami. Tidak ada itu istilah cerai baik-baik. Kalau baik-baik ngapain bercerai, ya kan ??? — itu pendapat saya siy.
Didukung juga banyaknya berita perceraian artis dengan alasan sudah tidak adanya kecocokan. Dari Krisdayanti - Anang yang jadi icon pasangan ideal selebriti, sampai Dewi Sandra - Glenn Fredly dengan kisah cinta dan pernikahannya yang spektakuler. Belum lagi sekarang Fanny Bauty dan Mark Sungkar yang sedang dalam proses perceraian.
Oh yeah. Walau saya perempuan bekerja, tapi masih sempat lah mengikuti Insert ! Pagi dan Kabar Kabari, hehehe … bagaimanapun saya perempuan biasa yang rindu gossip, hihihi …
Lalu kata saya pada sahabat saya, mudah-mudahan kamu segera mendapat cinta baru. “Atau, kamu kembali lagi pada suamimu, hidup bareng-bareng lagi seperti dulu,” kata saya dengan harapan sewajarnya.
Wajar dong saya menyampaikan harapan untuk kembali? Enam tahun menikah tentu banyak hal manis yang dinikmati. Apalagi sudah ada anak yang lucu. Lagipula, selama pengalaman kehidupan pernikahan saya, tidak ada permasalahan yang tidak dapat diselesaikan selama kita mau menyelesaikannya dengan damai.
“NGGAK MUNGKIN AKU KEMBALI KE SUAMIKU,” katanya tegas. Saya agak terkejut dengan reaksinya. Lalu dia menunjukkan beberapa sms suaminya yang … yeah, saya sampai menahan nafas sekian detik membacanya. Dalam sms itu si suami, lelaki yang pernah menikahinya selama 6 tahun, menyebutnya binatang-binatang. Dan ada satu sms yang menyebutnya perempuan jalang *dalam bahasa Jawa yang kasar*
Eeww.
Saya terdiam. Saya berpikir. Bagi saya, suami saya adalah juga teman, sahabat, jiwa yang dengannya berbagi suka dan duka, sehat dan sakit, untung dan malah, sampai maut memisahkan. Pasangan adalah teman hidup, bukan lawan hidup. Dua manusia yang pernah mencintai. Dua manusia yang pernah hidup bersama. Sekarang bisa saling mencaci. Menghujat. Mencela.

Pekerjaan Istri
nyuci, nyeterika, ngelayani di ranjang, ck ck ck ck … whatta !!!
(Bukan) Dongeng Cinderella
Sedari kecil, terlalu sering kita mendengar cerita tentang pencarian cinta. Kisah Cinderella dengan sepatu kacanya yang akhirnya dipinang Pangeran Pujaan Hati. Kisah Putri Tidur yang dikutuk tidur selamanya sampai Sang Pangeran Tampan mencium bibirnya sehingga terbangun dan menikahinya. Kisah Little Mermaid yang rela menukarkan suara indahnya demi sepasang kaki dan akhirnya menikah dengan Lelaki Idamannya.
Menikah adalah AKHIR YANG BAHAGIA. Happily Ever After.
Kenyataannya, kehidupan justru berawal dari setelah menikah. Itu kenapa dalam setiap pernikahan bertaburan ucapan : SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU. Hidup baru sebagai manusia baru berstatus suami / istri. Hidup baru dari seorang lajang / bujang yang bebas menjadi manusia dengan peran baru yang memiliki batasan-batasan yang dalam komitmen bersama ditetapkan untuk dijalani secara sadar dan sukarela.
Happily Ever After ???
Kenyataannya tidak selalu begitu.
Life after marriage is not like A Cinderella Story, yet it’s not such a Shrek things.
Kehidupan dalam pernikahan seperti menjalani sebuah pertunjukan yang tak lagi bisa berhenti lalu memilih peran baru. Peran dalam pernikahan adalah kontrak seumur hidup. Setelah tanda tangan kontrak dalam Surat Nikah dan janji yang terucap adalah ikatan seumur hidup. Kecuali maut memisahkan.

